Kamis, 24 Februari 2011

cara mendongrak tenaga dari knalpot motor

Salah satu cara untuk mendongkrak tenaga motor adalah dengan mengganti knalpot ( exhaust ) dengan model racing. Diyakini, knalpot racing lebih lancar dalam menyalurkan gas hasil pembakaran. Bagaimana cara memilihnya ? Faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan sebelum membeli ? Bagaimana cara merawat mesin paska penggantian knalpot agar mesin tetap awet dan memiliki performa yang mumpuni ? Semoga tips berikut bisa membantu brothers dalam berburu knalpot racing untuk Karisma kesayangan - mengingat di toko onderdil dan variasi, bejibun banyaknya ragam model, merk dan harga knalpot racing.
Jujur saja, tidak ada sebuah knalpot yang betul-betul berkarakter racing ( balap ) yang dijual di pasaran secara bebas dan diproduksi masal. Orang kita terlanjur menyebut sebuah knalpot yang bentuknya berbeda dengan knalpot standar sebagai knalpot racing. Knalpot racing asli, biasanya didapatkan lewat pesanan khusus dengan desain dan perhitungan khusus pula ke tukang knalpot yang dipercaya. Karakter mesin ( paska korekan ), tipikal sirkuit balap dan hal-hal teknis lainnya yang merupakan bumbu dapur si pembalap dan team-nya, menjadikan knalpot racing kebanyakan diorder secara diam-diam (tidak dipasarkan kepada khalayak ramai). Yang dapat kita temui di pasaran, sebetulnya adalah knalpot semi-racing yang sudah diukur (jika si pembuat knalpot merupakan orang / merk ternama) agar sesuai dengan karakter mesin harian. Untuk seterusnya, istilah knalpot racing dalam tulisan ini merujuk kepada knalpot semi-racing ini.
Ada dua bentuk knalpot racing yang umumnya mudah dibedakan oleh rider awam. Bentuk panjang atau bentuk pendek. Bentuk panjang, jika knalpot tersebut memiliki silencer ( tabung peredam suara ) berada hampir di ujung buritan motor. Bentuk pendek, jika silencer knalpot tidak mencapai buritan ( setengah atau lebih sedikit dari panjang bodi motor keseluruhan ). Sulit membayangkan ? Lihat saja bentuk knalpot pada Honda RC211V Mas Biaggi dari Team Repsol Honda di MotoGP dengan bentuk knalpot pada pacuan Valentino Rossi di Yamaha M-1. Bentuk pendek, dimiliki oleh Honda RC211V. Valentino Rossi menggunakan bentuk panjang. Honda Tiger 2000 dan Honda Mega Pro, knalpot standarnya juga menganut bentuk panjang meski bukan tergolong sebagai knalpot racing.
Bentuk panjang, efektif untuk mengail tenaga di putaran atas ( menggapai top speed ). Bentuk pendek sebaliknya, efektif untuk mengail tenaga di putaran pendek. Jika bro menggunakan knalpot dengan bentuk pendek, torsi mesin gampang dicapai pada tiap giginya. Sedangkan jika menggunakan bentuk panjang, yang terasa adalah nafas mesin tiap gigi (terutama di gigi tinggi) terasa lebih panjang ketimbang saat menggunakan knalpot standar. Bentuk pendek, efektif untuk daerah perkotaan yang sering terjebak macet. Sedangkan bentuk panjang, ehem nikmat betul untuk motor yang sering diajak turing maupun buat pul-kam alias mudik. Jangan terkecoh. Perbedaan keduanya pada motor harian, tidak terlalu ekstrem. Jika bro menggunakan bentuk panjang untuk melibas macet, masih sah-sah aja kok. Bukan berarti motor bro akan bermasalah. Menggunakan bentuk pendek untuk turing ataupun perjalan jarak jauh, juga tidak ada masalah dengan tenaga.
Kembali ke MotoGP
Mengapa Honda RC211V menggunakan bentuk pendek ? Mengapa Yamaha M-1 menggunakan bentuk panjang ? Honda RC211V secara teknis, memiliki tenaga yang lebih dari Yamaha M-1. Rentang tenaganya / power band yang dimiliki lebih luas ketimbang rivalnya. Secara sederhana, jika itu Honda sanggup digeber 250 km / jam, rivalnya hanya mampu mencapai top speed 220 km /jam saja. Namun, untuk menempuh top speed maksimum, Honda RC211V membutuhkan waktu lebih lama ( kalah tarikan akibat power band lebih luas ). Jika diadu trek 201 m, Yamaha M-1 bisa jadi pemenangnya deh. Oleh karena itu, Honda RC211V perlu dopping tambahan agar tarikannya cepat melesat. Bentuk pendek ( ala megaphone )-lah solusinya. Kenapa Yamaha M-1 tidak mengikutinya ? Karena Yamaha M-1 membutuhkan dopping di putaran atas, sedangkan tarikannya dirasa cukup. Ingat bahwa top speed Yamaha M-1 masih kalah dari Honda RC211V sedangkan tenaga maksimum / top speed Honda RC211V sudah cukup. Kendati mengganti knalpot dengan bentuk pendekpun, top speed Honda RC211V masih di atas rivalnya. Kira-kira, analogi perbedaan bentuk panjang dan bentuk pendek demikian.
Bentuk panjang, biasanya ( sekali lagi, biasanya ) memiliki suara yang lebih lembut dan cenderung bulat atau sering disebut orang nge-bass Bentuk pendek, biasanya memiliki suara yang lebih keras dan pecah atau sering disebut orang robek atau mrepekâ. Wajar, panjangnya knalpot racing bentuk panjang, membuat aliran gas buang lama mencapai ujung knalpot sehingga tekanannya melemah ketika keluar. Pada knalpot racing bentuk pendek, di mana tekanan gas buang masih cukup kuat, gas buang sudah mencapai ujung knalpot. Inilah yang membuat bentuk pendek suaranya cenderung bikin pemakainya disumpahiorang lain. Selain ukuran, bentuk corong pada ujung silencer knalpot juga mempengaruhi. Masih ada lagi, karakter saringan dan mutu glass-wool ( gaspul ) yang berfungsi mengolah turbulensi gas buang di dalam silencer, juga turut mempengaruhi. Sayang, hal ini tidak bisa dengan mudah untuk diketahui oleh awam, kecuali orang yang mengerti seluk-beluk knalpot.
Namanya juga knalpot racing, tentu fungsi dasarnya adalah untuk membuat motor lari sekencang-kencangnya. Otomatis, putaran atas mesin lebih diutamakan, baik pada bentuk panjang maupun pendek. Dalam hal ini, knalpot racing rata-rata mengorbankan putaran bawah. Artinya, tarikan motor dengan knalpot racing, boleh jadi kalah bengis dari knalpot standar. Motor dengan knalpot racing tanpa penyesuaian apa-apa lagi akan terasa lemot dan lamban pada saat gas dipelintir. Seolah tenaga motor mengayun, hilang sesaat dan tidak responsif. Bagaimana mengakali-nya ? Hal ini juga berhubungan dengan faktor konsumsi bahan bakar.
Knalpot racing, membuat gas buang lebih lancar mengalir atau free-flow. Ibarat manusia, knalpot racing membuat seseorang ( baca : mesin ) pipis lebih lancar. Jika orang tersebut minum air terlalu sedikit, jadinya adalah dehidrasi. Demikian pula dengan mesin ketika knalpot racing diaplikasi. Pasokan bahan bakar harus ditambah ! Ada langkah-langkah tertentu yang harus dilakukan brother paska penggantian knalpot ini.
1. Lakukan penyetelan setelan udara setelah penggantian knalpot.
2. Lakukan test ride beberapa km dengan kondisi riding seperti biasa ( layaknya membawa motor secara harian, tidak perlu terlalu kencang, tidak usah telalu pelan )
3. Matikan mesin beberapa meter sebelum motor berhenti ( posisi gigi di-netralkan dulu ) untuk memperlihatkan kondisi mesin ( via busi ) sesungguhnya.
4. Buka busi. Awas, hati-hati. Membuka busi sesaat setelah mesin dijalankan beresiko membuat ulir drat tempat busi menjadi selek.
5. Perhatikan kondisi dan warna busi. Jika busi berwarna putih bersih, berarti setelan udara tidak mampu menahan dahaga mesin akan bahan bakar. Harus ganti spuyer ! Jika busi berwarna putih kecoklatan / merah bata, berarti setelan sudah tepat. Jika busi berwarna hitam, atur ulang setelan udara.
Ada beberapa kasus yang kadang ikut menyertai ketika dilakukan penggantian knalpot. Kasus knalpot racing yang baru hobi dar der dor alias nembak-nembak sampai ke knalpot mengeluarkan percikan api ! Meski jarang terjadi, ada kemungkinan knalpot racing yang baru nembak. Karisma dilengkapi dengan CDI canggih yang mempu mengatur debit bahan bakar sesuai dengan permintaan mesin di setiap putaran. Penggantian knalpot racing, sedikit banyak membuat keakuratan CDI dalam membaca permintaan mesin berkurang. Jangan khawatir, hal ini tidak akan membuat CDI rusak hanya menghilangkan unsur ekonomis dan efisiensi bahan bakar. Wajar. Mesin melesat cepat, logikanya lebih haus bahan bakar kan ?
Perawatan mesin paska penggantian knalpot yang utama adalah, membuat mesin tidak kehausan bahan bakar ! Mesin yang telalu kering beresiko membuat mesin cepat jebol. Setelah setelan ideal didapatkan, perawatan yang lain berjalan seperti biasa. Ganti oli secara teratur, bahkan jika perlu interval-nya dipercepat. Misalkan biasanya ganti oli setiap 2000 km, boleh ganti setiap 1500 km. Tidak perlu oli mahal, oli rekomendasi pabrik sudah cukup kok. Satu tips lagi, setelah knalpot terpasang dan setelan didapatkan, bersihkan filter udara sekalian agar hasilnya lebih greng. Bensin tidak perlu diganti ke oktan yang lebih tinggi. Biasa minum premium, premium saja.
Ada juga beberapa kasus di mana setelah knalpot racing terpasang, setelan ideal malah tidak pernah ketemu meskipun sudah sampai mengutak-atik karburator ( ganti spuyer, setel pelampung, dll ). Hal ini menunjukkan bahwa knalpot tersebut kurang baik mutunya atau tidak sesuai dengan kondisi mesin standar. Langkah antisipasinya adalah dengan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum membeli knalpot. Bisa juga dengan memperhatikan beberapa merk yang sudah diakui mutunya, yang beredar di pasaran.
Terakhir, selama dilakukan penyetelan ulang paska penggantian knalpot dengan baik dan benar, disertai langkah-langkah merawat tunggangan secara rutin, tidak perlu khawatir Honda Karisma brothers akan cepat rusak. Apalagi Honda yang mesinnya bandel. Jadi, selamat berburu knalpot racing. Ingat, kecepatan bukanlah yang utama. Safety riding lebih penting, bro!

2 komentar:

  1. Sangat informatif, salam kenal mas.. :)

    BalasHapus
  2. Boleh juga blog lo....
    Mantap sob, jadi ngerti knalpot gw...

    Sayangnya, motor gw Tiger 2000 sob...
    Harus lebih intensif...
    Kata abang Club gw, Tiger 2000 harus ganti oli setiap 1000km...
    Tapi wajar sih sob, tenaganya lumayan...

    BalasHapus